Teori Belajar

On Minggu, 03 Oktober 2010 0 komentar

Macam-Macam Teori Yang Mendasari Pembelajaran
oleh : Mustanan
Dalam kegiatan pembelajaran, kita tidak dapat melepasakan diri dari berbagai teori-teori psikologi yang memiliki hubungan erat dengan permasalahan tersebut. Dikatakan demikian karena yang melakukan kegiatan pembelajaran itu adalah manusia yang memiliki keunikan dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain dan hanya manusialah yang dapat melakukan kegiatan pembelajaran itu.
Banyak teori yang membahas tentang terjadinya perubahan tingkah laku, namun demikian setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia yaitu hakikat manusia menurut pandangan Jhon Locke dan hakikat manusia menurut Leibnitz. Menurut Jhon Locke manusia itu adalah manusia yang fasif. Dengan teori Tabularasanya Jhon Locke mengannggap bahwa manusia adalah seperti kertas putih, hendak ditulisi apa kertas itu tergantung pada orang yang menulisnya. Dari pandangan yang mendasar tentang hakikat manusia itu, memunculkan aliran belajar Behavioristik-Elementeristik.
Berbeda dengan pandangan Locke, Leibnitz menganggap bahwa manusia adalah organisme yang aktif. Manusia merupakan sumber dari semua kegiatan. Pada hakikatnya manusia bebas untuk berbuat, manusia bebas untuk membuat pilihan dalam setiap situasi. Titik pusat kebebasan tersebut adalah kesadarannya sendiri. Menurut aliran ini tingkah laku manusia hanyalah ekspresi yang dapat diamati sebagai akibat dari eksistensi internal yang pada hakikatnya bersifat pribadi. Pandangan hakikat manusia menurut pandangan Leibnitz ini kemudian melahirkan aliran belajar Koginitif holistik.
Berangkat dari konsep manusia yang berbeda dalam menjelaskan terjadinya prilaku, kedua aliran teori belajar yaitu aliran behavioristik elementeristik dan aliran kognitif holistik memiliki perbedaan pua. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Teori Belajar Behavioristik Teori Belajar Kognitif
- Mementingkan pengaruh lingkungan - Mementingkan apa yang ada dalam diri
- Mementingkan Bagian-Bagian - Mementingkan Keseluruhan
- Mengutamakan Peranan Reaksi - Mengutamakan Fungsi Kognitif
- Hasil Belajar Terbentuk Secara Mekanis - Terjadi keseimbangan dalam diri
- Dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu - Tergantung pada kondisi saat ini
- Mementingkan pembentukan kebiasaan - Mementingkan terbentuknya struktur kognitif
- Memecahkan masalah dilakukan dengan trial and error - Memecahkan masalah didasarkan oleh insight
Berpangkal dari pandangan Jhon Locke dan Leibnitz tersebut di atas melahirkan dua teori pembelajaran yaitu Teori Pembelajaran Behavioristik dan Teori Pembelajaran Koginitif. Untuk memahami kedua teori tersebut, selanjutnya akan dibahas lebih jauh.
1. Teori Behaviorisme
Teori Belajar Behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran Behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori Behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata.
Teori ini bertitik tolak pada pandangan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku. Artinya bahwa anak (peserta didik) sebagai organisme yang merespon terhadap stimulus dari dunia sekitarnya. Teori ini lebih dikenal dengan istilah stimulus (S), respon (R), dan organisme (O), yang disingkat dengan istilah S-O-R.
Teori Behaviorisme sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati atau diukur. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri dari unsur-unsur seperti halnya mulekul-molekul. Ada beberapa ciri dari rumpun teori ini yaitu :
a. Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil
b. Bersifat mekanistis
c. Menekankan peranan lingkungan
d. Mementingkan pembentukan reaksi atau respon
e. Menekankan pentingnya latihan.
Fungsi guru dalam kaitannya dengan teori ini adalah menyajikan stimulus tertentu yang dapat membangkitkan respon peserta didik berupa hasil belajar yang diingingkan. Untuk mengatur proses stimulus-respon secara sitematis, bahan pelajaran harus dipilah-pilah menjadi butir-butir informasi lalu diurut secara tepat, dimulai dari yang sederhana sampai kepada yang paling kompleks.
Teori behaviorisme ini melahirkan beberapa anak teori yaitu :
a. Teori Koneksionisme
Teori pembelajaran koneksionisme (connectionism) ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike sekitar tahun 1913. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain adalah merupakan suatu hubungan antara peransang-jawaban atau stimulus-respons, maka pembelajaran merupakan pembentukan hubungan stimulus-respons sebanyak-banyaknya. Teori ini mempunyai doktrin pokok yakni hubungan antara stimulus dan respons, asosiasi-asosiasi dibuat antara kesan-kesan pandangan dan dorongan untuk berbuat. Ikatan atau koneksi-koneksi dapat diperkuat atau diperlemah serasi dengan dengan banyaknya penggunaan dan pengaruh dari penggunaan itu.
Teori ini menyebut asosiasi antara kesan indrawi dan inpuls dengan tindakan sebagai ikatan atau koneksi. cabang-cabang asosiasionisme sebelumnya telah berusaha menunjukkan bagaimana ide-ide menjadi saling terkait. Menurut Thorndike bentuk paling dasar dari proses belajar adalah trial and error learning (belajar dengan uji coba) atau yang disebutnya selecting and connecting (pemilihan dan pengaitan).
Thorndike dalam penelitiannya yang menghasilkan teori koneksionisme ini mengemukakan tiga perinsip atau hukum dalam belajar yaitu (1) law of readiness, belajar akan behasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut; (2) law of exersice, yaitu belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan ulangan; (3) law of effect, belajar akan bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik.
Hasil penelitian Thorndike di atas dapat dipahami bahwa siapa yang menguasai stimulus-respons sebanyak-banyaknya ialah orang pandai atau berhasil dalam belajarnya. Pembentukan hubungan stimulus – respons ini dilakukan melalui ulangan-ulangan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar dan pembelajaran akan berhasil dan berkesan lama serta tersimpan dalam memori peserta didik apabila dilakukan secara berulang-ulang.
b. Teori Classical Conditioning (Pengkondisian)
Teori pembiasaan klasik (classical conditioning) dikembangkan berdasarkan hasil eksprimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936) seorang ilmuwan besar Rusia yang berhasil meraih hadiah nobel pada tahun 1909. Pada dasarnya classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Pavlov berspekulasi bahwa setiap kejadian di lingkungan berhubungan dengan beberapa titik di otak dan saat kejadian ini dialami, ia cenderung menggairahkan atau menghambat aktivitas otak. Jadi otak terus dirangsang atau dihambat tergantung apa yang dialami oleh organisme.
Pavlov melakukan percobaan dengan seekor anjing. Bentuk percobaannya, Pavlov ingin membentuk tingkah laku tertentu pada anjing. Sebelum diberikan makanan kepada anjing terlebih dahulu dibunyikan lonceng dan setelah melihat makanan air liur anjing keluar. Keadaan ini diulang terus menerus. Setelah beberapa kali dilakukan ternyata pada akhirnya setiap lonceng berbunyi air liur anjing keluar walaupun tanpa diberi makanan.
Dari eksprimen tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tetentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan yang dapat menumbuhkan tingkah laku.
c. Teori Operant Conditioning
Teori operant conditioning yang dikembangakan oleh Skinner merupakan pengembangan dari teori stimulus respons. Skinner membedakan dua macam respons yaitu respondent response dan operant response. Respondent response adalah respons yang ditimbulkan dengan peransang-peransang tertentu , misalnya peransang stimulus makanan menimbulkan keluarnya air liur.
Skinner membedakan dua jenis prilaku yaitu responden behavior (prilaku responden), yang ditimbulkan oleh suatu stimulus yang dikendali, dan operant behavior (prilaku operan), yang tidak diakibatkan oleh suatu stimulus yang dikenal tetapi dilakukan sendiri oleh organism. Respons yang terkondisikan (bersyarat) atau uncondisioned respons adalah contoh dari prilaku responden adalah semua gerak refleks, seperti menarik tangan ketika tertusuk jarum, menutupnya kelopak mata ketika terkena cahaya yang menyilaukan dan keluarnya air liur ketika melihat makanan.
Operant response adalah respons yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh peransang-perangsang tertentu. Peransang yang demikian yang disebut reinforser karena peransang tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Jadi dengan demikian peransang tersebut mengikuti dan memperkuat suatu tingkah laku yang telah dilakukan. Misalnya, jika seseorang telah belajar melakukan sesuatu lalu mendapat hadiah maka ia akan menjadi lebih lebih giat dalam belajar.

2. Teori Belajar Kognitif

Teori belajar kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif. Teori ini berbeda dengan behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui bukan respons. Dalam proses pengembangan teori Kognitif terdapat tiga aliran teori yaitu teori Gestal, teori Medan, dan teori Konstruktivisme.
a. Teori Gestal
Teori Gestalt dikemukakan oleh Koffkka dan Kohler dari Jerman yang sekarang menjadi tenar di seluruh dunia. Menurut teori Gestalt belajar adalah proses mengembangkan insigh. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat mekanistis, sehingga mengabaikan peranan insight. Teori Gestalt justru mengungkap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku.
Kohler sebagai penemu teori ini melakukan eksprimen dengan menyimpan simpanse pada sebuah jeruji. Dalam jeruji itu disediakan sebuah tongkat, dan di luar jeruji disimpan sebuah pisang. Setelah dibiarkan beberapa lama ternyata simpanse dapat meraih pisang yang ada diluar jeruji dengan menggunakan tongkat yang disediakan itu.
Dari percobaan tersebut simpanse mampu mengembangkan insight, artinya dia dapat menangkap hubungan antara jeruji, tongkat dan pisang. Ia memahami benar bahwa pisang adalah makanan, ia juga memahami bahwa tongkat dapat digunakan meraih yang berada di luar jeruji. Inilah hakikat belajar. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa belajar terjadi karena adanya kemampuan menangkap makna serta keterhubungan makna antara komponen yang ada dengan lingkungan sekitarnya.
Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori Gestalt memiliki ciri-ciri yaitu :
1) Insight tergantung dari kemampuan dasar, sedangkan kemampuan dasar tergantung kepada usia dan posisi yang bersangkutan dalam kelompok.
2) Insight tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan.
3) Insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa.
4) Apabila insight telah diperoleh maka dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situsi yang lain.
Para ahli yang menganut teori ini menganggap peserta didik bukan hanya sekedar objek dalam pembelajaran, tetapi juga sebagai objek didik, dengan pengertian lain anak dianggap sentral dalam proses tersebut. Dengan kata lain anak tumbuh dalam bentuk keseluruhan organisme-nya, perubahan pada satu bagian akan berpengaruh pada keseluruhan pribadi anak.
b. Teori Medan
Teori medan di kembangkan oleh Kurt Lewin. Sama dengan teori Gestalt, toeri medan menganggap bahwa belajar adalah proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang yang berkaitan proses pemecahan masalah menurut Lewin dalam belajar adalah :
1) Belajar adalah Perubahan Struktur Kognitif.
Setiap orang dapat memecahkan masalah jika ia bisa mengubah struktur kognitif. Permasalahan yang sering dijadikan contoh adalah sebagai berikut :
Ada Sembilan buah titik. Hubungkan kesembilan titik tersebut dengan empat buah tarikan garis tanpa mengangkat tangan !
Orang yang melihat sebilan buah titik sebagai sebuah bujur sangkar akan sulit memecahkan persoalan tersebut. Oleh karena itulah agar Sembilan buah titik dapat dilewati dengan empat buah tarikan garis, kita harus, kita harus mengubah struktur koginitf kita, bahwa Sembilan titik itu bukan sebuah bujur sangkar.
2) Pentingnya Motivasi.
Para ahli berpendapat bahwa motivasi adalah prilaku manusia yang berasal dari kekuatan mental umum, insting, dorongan, kebutuhan, proses kognitif, dan interaksi. Motivasi adalah paktor yang dapat, mendorong setiap individu untuk berprilaku. Motivasi muncul karena adanya daya tarik tertentu. Misalnya, nilai merupakan sesuatu yang dapat menjadi daya tarik seseorang (motivator) akan tetapi, untuk mendapatkan nilai yang baik itu misalnya belajar dengan giat, melaksanakan setiap tugas, merupakan hal yang tidak menarik.
Oleh karena itu sering untuk mengejar daya tarik itu seseorang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, misalnya menyontek, menjiplak tugas dan sebagainya. Untuk menghindari hal tersebut diperlukan pengawasan yang memadai. Itulah sebabnya selain diperlukan paktor pendorong melalui hadiah juga diperlukan hukuman terutama apabila terjadi gejala-gejala prilaku yang tidak sesuai.
Di samping hal tersebut di atas motivasi juga bisa muncul karena pengalaman yang menyenangkan, misalnya pengalaman kesuksesan. Seseorang yang mengalami keberhasilan mencapai sukses seperti berhasil meraih angka tertinggi dari suatu tes, maka yang bersangkutan akan termotivasi untuk melakukan tindakan lebih bagus, ia akan lebih senang, gembira, dan merasa puas. Sebaliknya, seseorang yang gagal meraih sukses akan merasah sedih, malu, tidak mersa puas, yang pada gilirannya akan melemahkan motivasi mereka untuk bertindak lebih lanjut.
c. Teori Konstruktivisme
Teori konstruktivisme ini dikembangkan oleh Piaget pada pertengahan abad ke 20. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor, anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan.
Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Teori ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain, seperti teori Bruner.
Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna.
Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Dalam hal tersebut Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar