BEBERAPA PANDANGAN TENTANG MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

On Minggu, 05 Desember 2010 0 komentar

Oleh : Mustanan

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kedatangan Islam pada abad ke-7 M. ke Dunia dianggap oleh sejarawan sebagai pembangun dunia baru dengan pemikiran baru, cita-cita baru, kebudayaan serta peradaban baru. Semenjak Nabi Muhammad saw. Menyebarkan ajaran baru dalam bidang teologi monoteisme, bidang kehidupan individu, bidang kehidupan masyarakat dan kenegaraan, terbentanglah peradaban Islam dari Jasirah Arabiah sampai daratan Andalusia, dari lembah sungai Wolga di Rusia menembus Benteng Cina sampai ke Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Indonesia merupakan salah satu Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. menurut statistik penduduk Indonesia berjumlah 206.264.595 jiwa. Data ini merupakan hasil sensus penduduk tahun 2000. Ahmad Usairy mengatakan bahwa penduduk Indonesia yang muslim berkisar 89 %. Dengan demikian jumlah penganut Agama Islam berjumlah sekitar 183.575.785 dan sisanya sekitar 22.687.810 inilah jumlah penduduk non muslim di Indonesia seperti penganut Agama Kristen, Hindu, Budha, Tionghoa dan penganut kepercayaan. Jumlah penduduk yang beragama Islam ini merupakan angka yang sangat luar biasa karena Islam diturunkan pertama kali bukan di Negeri yang dijuluki zamrud Khatulistiwa ini. Islam pertama kali diseruh di Jazirah Arab, nanti beberapa abad kemudian baru sampai di Nusantara Indonesia.
Sebelum kedatangan Agama Islam di Indonesia, masyarakat kepulauan Nusantara ini telah menganut agama yaitu Agama Hindu dan Budha disamping aliran kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Agama-agama ini telah mempunyai pengaruh yang cukup besar, hal ini dibuktikan dengan berbagai bukti peninggalan sejarah seperti Candi dan Kuil. Selain daripada itu di masa sebelum kedatangan Islam juga telah berdiri kerajaan-kerajaan besar yang menganut Agama Hindu dan Budha seperti Kerajaan Mataram Konu, Sriwijaya, Majapahit dan sebagainya.
Setelah kedatangan Agama Islam, masyarakat Indonesia telah mengalami transpormasi dari masyarakat feodal pengaruh Hindu-Budha menjadi masyarakat Islam. Secara berangsur - angsur peradaban Islam di Indonesia telah menampakkan dominasinya, menggeser secara perlahan-lahan peradaban Hindu-Budha. Masuknya Islam di Indonesia sangatlah konpleks, sehingga terdapat banyak perbedaan pendapat terutama mengenai, kapan awal masuknya Islam di Indonesia. Hal ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam untuk mengungkap fakta sejarah yang sesungguhnya. Mengenai hal tersebut insya Allah penulis akan uraikan lebih lanjut dalam makalah ini.


II. PEMBAHASAN
A. Pandangan Tentang Masuknya Islam Di Indonesia
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelaut ulung yang sanggup mengarungi samudera luas. Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagagan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Awal abad masehi yang masih pada fase peralihan dari zaman prasejarah akhir di wilayah nusantara telah ada rute-rute perdagangan antar pulau dan antar daerah.
Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual di sana menarik perhatian bagi para pedagang dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatra untuk kemudian dijual kepada pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa dan Sumatra sejak abad ke-1 dan ke-7 M. sudah ramai dikunjungi oleh pedagang asing.
Pedagang-pedagang muslim asal Tanah Arab, Persia dan India juga telah ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke-7 M. (abad 1 H.). hal inilah kemudian menjadi tonggak sejarah masuknya Islam di Indonesia. Islam masuk dan berkembang di Indonesia mempunyai watak atau karakteristik yang berbeda dengan watak islam di kawasan lain, khususnya di timur tengah. Karakteristik islam di nusantara lebih damai, ramah dan toleran. Penyebaran islam secara damai di kawasan nusantara berbeda dengan ekspansi islam di berbagai wilayah Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika yang oleh sumber-sumber Islam disebut futuh, yakni pembebasan yang sering melibatkan kekuatan militer, Akhirnya wilayah-wilayah ini mengalami arabisasi yang lebih intens. Perbedaan penyebaran Islam di jazirah Arab dengan Indonesia ini disebabkan karena di penyebaran Islam di tanah Arab juga disertai dengan kepentingan politik yaitu penguasaan wilayah sehingga dalam beberapa kasus dalam penaklukan wilayah kekuasaan Islam ditempuh dengan jalan peperangan, sedangkan di Indonesia penyebaran Islam pada masa itu tanpa unsur politik.
Islam dalam batas tertentu masuk di Indonesia disebarkan oleh pedagang, kemudian dilanjutkan oleh para guru agama (da’i) dan pengembara sufi. Orang yang terlibat dalam kegiatan da’wah pertama itu tidak bertendensi apa pun selain bertanggung jawab menuanaikan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama mereka berlalu begitu saja. Tidak ada cacatan sejarah yang atau prasasti pribadi yang sengaja dibuat untuk mengabadikan peran mereka, ditambah lagi wilayah Indonesia yang sangat luas dengan perbedaan kondisi dan situasi. Hal ini yang menyebabkan sehingga terjadi perbedaan pendapat tentang kapan, dari mana dan dimana pertama kali Islam datang ke Nusantara Indonesia.

1. Penetapan Waktu Masuknya Islam Di Indonesia
Perbedaan pendapat mengenai awal kedatangan Islam di Indonesia melahirkan tiga versi. Ada yang mengatakan bahwa Islam pertama kali datang ke Indonesia sejak abad ke-7 M., ada juga pandangan yang mengatakan bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-9 M. serta ada pula yang berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Ketiga versi ini masing-masing memiliki argumentasi tersendiri. Berikut penulis akan menguraikan masing-masing versi tersebut.

a. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke-7 M.
Hasil seminar masuknya Islam ke Indonesia yang dilaksanakan di Medan pada bulan maret tahun 1963 menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kalinya pada abad pertama Hijriyah atau bertepatan dengan abad ke-7 M., yang dibawa langsung dari tanah Arab. Dengan argumentasi bahwa jalur pelayaran niaga sudah berkembang pesat pada abad ke-1 H. / abad ke-7 M. orang-orang Arab dan India sudah mengadakan pelayaran ke Cina melalui perairan kepulauan Indonesia terutama selat Malaka. Dalam perjalanan itu mereka singgah diberbagai wilayah Indonesia, mereka berinteraksi dan berkomunikasi dengan penduduk setempat sehingga memunkinkan terjadi pertukaran budaya atau akulturasi budaya.
Pedagang-pedagang Muslim asal Arab, Persia dan India juga telah ada yang sampai di kepulauan Indonesia untuk berdagang, sejak abad ke-7 M. ketika berkembang pertama kali di Timur Tengah, Malaka sudah merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Melalui Malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara di bawa ke Cina, Gujarat dan Tanah Arab. Melalui jalan pelayaran tersebut kapal-kapal Arab, Persia dan India mondar-mandir dari Barat ke Timur dengan menggunakan angin untuk pelayaran Pulang perginya. Meskipun belum ada bukti yang sahih, tetapi bukan tidak mungkin kalau dalam priode ini telah mulai terbentuk komunitas-komunitas Islam khususnya di daerah pesisir.
Sekitar abad ke-1 H. / abad ke-7 M., meskipun dalam frekuensi yang tidak terlalu besar, kawasan Asia Tenggara mulai berkenalan dengan tradisi Islam. Hal ini terjadi ketika para pedagang Muslim yang berlayar di kawasan ini, singgah untuk beberapa waktu. Pengenalan Islam lebih intensif khususnya di semenanjung Melayu dan Nusantara belangsung beberapa abad kemudian. Dengan singgahnya para pedagang Muslim di daerah-daerah di Nusantara sangat mungkin terjadi hubungan perkawinan antara penduduk muslim asing dengan penduduk setempat, sehingga menjadikan penduduk pribumi sudah ada yang beralih menjadi muslim.
Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” juga menguatkan temuan bahwa Agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M. Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi Negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara. Dengan berdasar kepada berita Cina dari zaman T’-ang yang menceritakan adanya orang-orang Ta-shih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Ho-ling dibawah pemerintahan Ratu Sima (674 M.),karena ternyata kerajaan Ho-ling itu sangat keras. Sebutan Ta-shih dalam dalam berita itu ditafsirkan sebagai orang-orang arab. Tempat orang-orang Ta-shih yang dimaksud ada dua, satu bernama Fo-lo-an termasuk daerah Sriwijaya, letak kota tersebut adalah Kuala Brang yang terletak 25 mil dari sungai Trengganu. Tempat yang kedua terletak di Sumatra Selatan. Dari berita itu dapat dipahami bahwa sejak abad ke-7 sudah ada orang arab yang mendiami pesisi nusantara.
Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah saw. memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. Dengan demikian Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah saw. masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut : Rasululah saw. menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam, periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.
Dari rekonstruksi sejarah perdagangan sebagaiman pendapat-pendapat para sejarahwan di atas yang disertai bukti-bukti sejarah dan argumentasi yang kuat mengindikasikan bahwa Islam telah hadir di Indonesia pertama kalinya pada abad ke 7- Masehi atau abad pertama hijriyah. Namun ada kemungkinan pada masa awal itu Islam hanyalah merupakan agama yang dianut oleh para musafir muslim yang singgah di perairan dan Bandar-bandar penting di Nusantara.

b. Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-11 M.
Pendapat yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-11, berdasarkan dengan ditemukannya sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun yang yang terletak di Desa Leran, 12 KM. sebelah barat Gresik, Jawa Timur. Penemuan ini menjadi bukti bahwa telah ada penduduk muslim yang mendiami Nusantara pada awal abad ke-11 M.
Makam Fatimah binti Maimun tersebut mememperlihatkan kepada kita data pertanggalan di batu nisan tertulis 475 H. / 1082 M, atau awal abad ke-11 M. data ini merupakan peninggalan Islam tertua di Nusantara. Satu-satunya peninggalan lain yang sama tuanya adalah sebuah makam yang terletak di Pandurangga (Panrang) yang sekarang masuk wilayah Vietnam. Kedua batu nisan yang bertulis Kufi ini telah menarik perhatian besar para ahli efigrafi Islam. Sejauh ini hanya kedua batu nisan itulah yang merupakan bukti tertua kehadiran Islam di Indonesia. Akan tetapi bukan sesuatu yang tidak mungkin kalau sebelum itu memang sudah ada penduduk muslim yang lain mendiami nusantara, hanya saja peninggalannya tidak ditemukan.

c. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke-13 M.
Pendapat yang menyatakan bahwa Islam masuk di Indonesia pada ke-13 didasarkan kepada dugaan keruntuhan Dinasti Abbasiyah oleh Hulagu Khan tahun 1258. Kemudian diperkuan oleh bukti berita Marco Polo pada tahun 1292, berita Ibnu Batutah pada abad ke-14, kemudian ada juga yang menguatkan bahwa kedatangan Islam sampai terbentuknya masyarakat Muslim di Indonesia pada abad ke-13 berdasarkan kepada arus penyebaran dan kedatangan ajaran tasawuf. Kebanyakan peminat sejarah menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dan berkembang pada abad ke-13 sampai pada abad ke-14. Ira M. Lapidus dalam bukunya yang berjudul a History of Islamic Societes mengemukakan bahwa agama Islam menyebar di ke semenanjung melayu dan kepulauan Indonesia pada abad ke-13 sampai pada abad ke-15. Dengan demikian kita bisa memahami bahwa pada abad tersebut Agama Islam telah menyebar luas di kawasan Nusantara.
Pada waktu konsolidasi Islam terlaksana di anak Benua India para pedagang Muslim dan misionari Sufi mulai melancarkan hubungan dagang dan menyebar secara luas. Pada abad ke-13 M, Asia Tenggara telah menjalin hubungan dengan Muslim Cina, Bengal, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Oleh karena itu Islam tersebar di wilayah Indonesia pada pertengahan abad ke-8 H. (abad ke-14 M.) lewat jalur pedagang yang datang dari India mulalui Sumatra kemudian ke Jawa. Kerajaan Malaka memiliki peranan besar dalam menyebarkan Islam ke pulau-pulau dan giat melakukan da’wah sehingga Islam tersebar merata.
Seorang sejarawan Indonesia yaitu Taufiq Abdullah berkomentar mengenai masuknya Islam Indonesia dengan menyatakan bahwa Belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia ditempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu beragama Islam. Pendapat yang bisa dipertanggung jawabkan hanyalah bahwa para pedagang Arab pada abad ke-I H. hanya singgah berdiam untuk sementara di Nusantara untuk menunggu musim yang baik untuk pelayaran. Jadi menurut Taufiq Abdullah pada abad ke-7 M. boleh jadi belum ada penduduk pribumi yang memluk Islam, yang ada hanyalah pedagang arab yang singgah pelabuhan yang ada di Nusantara.
Pada abad ke-13 M. masyarakat Muslim barulah ada di Samudra Pasai, Perlak dan Palembang serta pada abad itu pulah telah ada pemakaman Islam di Tralaya. ini merupakan bukti telah berkembangnya komunitas Islam di Indonesia. Sumber Sejarah yang sahih yang dapat dipertanggungjawabkan tentang berkembangnya masyarakat Islam di Indonesia, baik berupa prasasti maupun hitoriografi tradisional maupun berita asing, baru terdapat ketika kumunitas Islam menjadi pusat kekuasaan.
Pandangan di atas juga kemukakan oleh sarjana-sarjana orientalis belanda diantaranya adalah Snouck Horgronje yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M. dari Gujarat (bukan dari arab langsung). Dengan bukti ditemukannya makam Sultan yang beragama Islam pertama di Indonesia yaitu Sultan Malik al-Shaleh, raja pertama kerajaan Samudra Pasai. Pada makam itu tertulis bahwa dia wafat pada bulan Ramadhan tahun 696 H. / 1297 M. jadi pada abad ini Islam telah menjadi kekuatan politik di nusantara dengan berdirinya kerajaan Samudera Pasai.
Dari uraian di atas Nampak dengan jelas terjadi perbedaan pandangan tentang waktu masuknya Islam di Indonesia. Masing-masing pandangan telah memberikan argumentasi yang kuat. Sarjana muslim kontenporer seperti Taufiq Abdullah mengkompromikan pendapat-pendapat tersebut. Menurut pendapatnya Memang benar Agama Islam telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M. / abad ke-1 H. akan tetapi baru dianut oleh para pedagang Timur Tengah dan sebagian kecil warga setempat di mana pedagang Timur Tengah tersebut sering berlabuh. Pada abad ke-9 Agama Islam telah menyebar ke beberapa daerah termasuk sudah meramba Jawa Timur dengan adanya bukti makam Fatimah binti Maimun di Gresik. Sedangkan pada abad ke-13 dan seterusnya Agama Islam melembaga dan telah menyebar secara intensif ke berbagai pelosok Nusantara bahkan telah mempunyai kekuatan politik dan menjadi agama kerajaan, seperti dengan berdirinya Kerajaan Islam Samudra Pasai. Jadi ketiga pendapat tersebut semuanya dapat diterimah karena perbedaan Pandangan tentang masuknya Islam di Indonesia hanyalah disebabkan sudut pandang para sejarawan memang berbeda.
Perlu dipahami bahwa kedatangan Islam dan kegiatan islamisasi di Nusantara merupakan dua hal yanga harus dibedakan. Di sini terdapat jarak yang cukup panjang antara persentuhan Islam pertama kali dengan islamisasi secara intensif. Agama islam memang sudah diperkenalkan di Nusantara pada abad ke-7 M. tetapi stelah abad ke-12 pengaruh islam baru kelihatan lebih nyata, oleh karena itu proses islamisasi tampak mengalami akselerasi antara abad ke-12 sampai abad ke-16

2. Orang Yang membawa Islam Datang ke Indonesia
Mengenai siapa yang membawa Agama Islam datang ke Indonesia, menimbulkan beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Martin van Bruinessen mengatakan cara berlangsungnya perpindahan Agama Islam di Nusantara tidak terekomendasikan dengan baik sehingga menimbulkan banyak spekulasi dikalangan para ilmuwan dan kadang-kadang menimbulkan perdebatan yang sengit. hal tersebut membuat para ahli juga berbeda pendapat tentang negeri asal serta golongan-golongan masyarakat Muslaim yang mengenalkan Agama Islam kepada bangsa Indonesia.
Teori-teori tentang kedatangan Islam di Indonesia didukung oleh sejumlah argument dan bukti-bukti. Dalam uraian berikut dikemukakan beberapa teori, sebagaiamana yang dikemukakan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Indonesia.

a. Islam Datang ke Indonesia Dibawa oleh Orang Arab
Teori yang menyatakan bahwa Islam datang langsung dari arab atau tepatnya Hadramaut dikemukakan oleh Crawfurt (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), de Hollander (1861) dan Veth (1878). Craefurt mengatakan bahwa Islam datang lansung dari arab. Sementara Keyzer beranggapan bahwa Islam datang dari Mesir, yang bermahzab Syafi’i, sama seperti yang dianut masyarakat muslim Indonesia pada umumnya. Teori ini juga dipegang oleh Nieman dan de Hollander, tetapi dengan menyebut Hadramaut, bukan Mesir sebagai sumber datangnya Islam. Sedangkan Veth hanya menyebut orang-orang Arab, tanpa menyebut asal mereka di Timur Tengah. Menilik pemaparan sebelumnya yang menafsiran Ta-shih seperto dikatakan dalam berita cina pada abad ke-7 adalah orang-orang arab dapat disimpulkan bahwa Islam datang ke Nusantara langsung dari Arab.
Teori semacam ini juga diajukan oleh Hamka dalam seminar Sejarah Masuknya Islam di Indonesia di Medan tahun 1963 M. Menurutnya Islam datang ke Tanah air Indonesia sejak abad pertama hijriyah, dibawa oleh saudagar-saudagar Islam yang intinya ialah orang-orang Arab diikuti oleh orang-orang Persia dan Gujarat. Dari argument tersebut memberikan indikasi bahwa Islam datang ke nusantara dibawah oleh orang-orang dari jazirah arab melalui para pedagang.

b. Islam Datang ke Indonesia Dibawa oleh Orang Gujarat (India)
Teori yang mengatakan bahwa Islam datang ke Nusantara dibawa oleh orang India, dikemukakan pertama kali oleh Pijnapel tahun 1872. Berdasarkan terjemahan berbahasa Prancis tentang catatan perjalanan Sulaeman, Marcopolo dan Ibnu Batuta, ia menyimpulkan bahwa orang-orang arab yang bermahzab Syafi’I dari Gujarat dan Malabar di India adalah yang membawa Islam ke Asia Tenggara. Ia mendukung teorinya yaitu dengan mengatakan bahwa hubungan perdagangan amat memungkinkan terselenggaranya hubungan antara kedua wilayah ini, ditambah lagi dengan umumnya istilah-istilah Persia digunakan oleh masyarakat kota-kota pelabuhan di Nusantara. Pendapat yang mengatakan islam datang ke Nusantara berasal dari Gujarat ini berargumen bahwa penganut islam di Nusantara mempunyai mahzah yang sama dengan muslim Gujarat.
Teori ini lebih lanjut dikembangkan oleh Snouck Hurgronje yang melihat para pedagang kota pelabuhan Dakka di India Selatan sebagai pembawa Islam ke wilayah baru ini. Teori Snouck ini juga dibenarkan oleh Morrison pada tahun 1951 dengan menunjuk tempat yang pasti di India, ia menyatakan dari sanalah Islam datang ke Nusantara. Ia menunjuk partai Koromandel sebagai pelabuhan tempat bertolaknya para pedagang Muslim dalam pelayaran mereka menuju Nusantara. Sejalan dengan pendapat tersebut Ahmad al-Usairi juga mengemukakan bahwa islam tersebar di Indonesia pada pertengahan abad ke-8 lewat jalur para pedagang yang datang dari India, dimulai dari Sumatra kemudian ke Jawa.
Menurut Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, hubungan Islam dengan Gujarat ditandai oleh makam Sultan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, baik jenis maupun bentuk hurup serta bentuk bangunannya secara keseluruhan menunjukkan kesamaan dengan makam di Samudra Pasai. Pendapat-pendapat seperti ini juga diperkuat oleh hasil penelitian J. P. Muquette menilai bahwa batu nisan Sultan Maulana Malik Ibrahim terbuat dari marmer, Bahan dan tulisannya yang bergaya kufi, memberi kesan kuat bahwa kedua batu nisan makam tersebut dibuat di Gujarat, India. Makam tersebut bahkan memiliki kesamaan dengan makam di Cambay, Gujarat. Penjelasan tersebut memberikan bukti bahwa Islam datang ke Indonesia berasal dari Gujarat.

c. Islam Datang ke Indonesia Dibawa oleh Orang Benggali (Bangladesh)
Teori yang menyatakan Islam datang dari Benggali (kini Bangladesh) dikembangkan oleh Fatimi. Ia mengutip keterangan Tome Fires yang mengungkapkan bahwa kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang Benggali atau anak keturunan mereka. Juga Islam muncul pertama kali di semenanjung Malaya atau dari arah pantai Timur, bukan dari Barat (Malaka), pada abad ke-11 M. melalui Kanton, Phanrang (Vietnam), Leran dan Trengganu. Islam berkembang di daera-daerah ini melalui aliran tasawuf. Ia beralasan secara doktrinal, Islam di semenanjung lebih sama dengan Islam di Phanrang. Selain itu elemen-elemen prasasti di Trengganu juga lebih mirip dengan prasasti yang ditemukan di Leran. Fatimi berpendapat bahwa islam datang ke nusantara berasal dari Benggali karena salah satu saluran islamisi di Nusantara adalah melalui jalur tasawuf, sama dengan saluran pekembangan Islam di Benggali.
Akan tetapi pendapat tersebut ditantang oleh Drewes yang lebih condong mempertahankan teori Snouck. Menurutnya teori Fatimi ini tidak bisa diterima, terutama karena penafsirannya atas prasasti yang ada dinilai merupakan perkiraan liar belaka. Lagi pula, mahzab yang dominan di benggali adalah mahzab Hanafi, bukan mahzab Syafi’I seperti yang dianut masyarakat di semenanjung dan Nusantara secara keseluruhan. Dengan demikian pendapat yang menyatakan Islam datang ke Indonesia di bawah oleh orang Benggali kurang kuat dasarnya apalagi mendapat tantangan dari pakar sejarah yang lain.

d. Islam Datang ke Indonesia Dibawa oleh Orang Cina
Muncul satu lagi teori yang mengatakan bahwa Islam datang pertama kali ke Indonesia dibawa oleh orang Cina. Teori ini dikemukakan oleh Emmanuel Godinho de Eradie, seorang ilmuwan Spanyol yang menulis pada tahun 1613 M. ia mengatakan bahwa :
Sesungguhnya aqidah Muhammad telah diterima di Patthani dan Pam di Pantai Timur kemudian diterima dan dikembangkan oleh permaisuri (parameswara) pada tahun 1411 M.
Masuknya Islam ke Indonesia yang dibawa oleh orang-orang Cina erat kaitannya dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho ke beberapa pulau di Indonesia. Ia dan pasukannya pertama kali datang ke Pulau Jawa pada tahun 1405. Cheng Ho dikenal sebagai pelaut ulung dan Muslim yang taat. Cheng Ho dipercaya untuk memimpin pasukan tentara Cina yang dikirim oleh Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming, pada sekitar tahun 1368 M. ke wilayah-wilayah Asia Barat dan Kepulauan Nusantara. Misinya adalah untuk memperbaiki hubungan antara rakyat Tiongkok dengan wilayah yang dikunjungi Cheng Ho karena memang sebelumnya hubungan Tiongkok dengan Nusantara dirusak oleh kaisar Mongol, Kubilai Khan yang datang menyerang Pulau Jawa Pada abad ke-12 M.
Pendapat yang mengatakan Islam datang ke Indonesia dibawa oleh orang Cina seperti yang dikemukakan di atas menurut analisa penulis tidaklah shahih atau lemah dasarnya, dengan beberapa asumsi yaitu pedagang-pedagang Muslim Arab, Persia dan Gujarat yang ingin berdagang ke Negeri Cina melewati selat Malaka, singgah dulu berlabuh di pesisir-pesisir Nusantara, jadi masyarakat pesisir Nusantara lebih dulu mengenal Islam dari pada orang di Negeri Cina sendiri. kedatangan Laksamana Cheng Ho ke beberapa pulau di Indonesia juga tidak bisa dijadikan dasar bahwa dia membawa Islam, karena kedatangannya nanti pada awal abad ke-14, sementara itu pada abad sebelumnya (abad ke-13) di Indonesia telah berdiri kerajaan Islam Samudra Pasai.
Dalam kaitannya dengan kedatangan islam di nusantara Azyumardi Azra menyimpulkan bahwa pertama, Islam datang ke nusantara dibawa langsung dari arab, kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyiar professional yaitu yang memang khusus bermaksud menyebarkan Islam, ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah para pengauasa baru diikuti kemudian oleh para pengikutnya. Pendapat-pendapat yang telah dipaparkan di atas, maka jelaslah bahwa tidak mudah menentukan degan pasti siapa yang membawa Islam pertama kali datang ke Nusantara. Akan tetapi dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling kuat tentang orang yang membawa Islam ke Nusantara adalah pedagang Muslim dari Arab lalu kemudian disusul oleh orang Gujarat. Para pedagang muslim ini memperkenalkan Islam terlebih dahulu, lalu kemudian dilanjutkan oleh para penyi’ar profesianal yakni para da’I yang memang khusus bermaksud menyebarkan Islam, para penyiar professional itu datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13.

0 komentar:

Poskan Komentar