TIGA KERAJAAN BESAR

On Minggu, 05 Desember 2010 0 komentar

Oleh : MUSTANAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sejak jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M. ke tangan Bangsa Mongol Tidak hanya mengakhiri pemerintahan Bani Abbasiyah tetapi juga merupakan awal masa kemunduran politik dan peradaban Islam. Kekuasaan Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik menjadi beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain saling mengalahkan. Kondisi politik umat Islam secara keseluruhan nanti mengalami kemajuan kembali setelah terbentuknya tiga kerajaan besar yaitu : Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India.
Kerajaan Usmani di samping yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding kedua kerajaan lainnya. Turki Usmani dianggap sebagai dinasti yang mampu menghimpun kembali umat Islam setelah beberapa lama mengalami kemunduran politik. Munculnya kerajaan Turki Usmani, kembali menjadikan umat Islam sebagai kekuatan yang solid, ia berhasil menaklukkan kota Konstantinofel, yang sejak masa dinasti Umayyah telah dicoba untuk ditaklukkan, namun selalu gagal.
Selain Kerajaan Usmani, di Persia muncul juga satu dinasti baru yang kemudian menjadi kerajaan besar di dunia Islam, yaitu dinasti Safawi. Kerajaan ini mampu mempersatukan seluruh daerah Persia sebagai satu negara yang besar dan independen.
Seperempat abad setelah berdirinya kerajaan Safawi, berdiri pula kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai ibu kotanya. kerajaan Mughal bukanlah kerajan Islam pertama di anak Benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa khalifah al-Walid dari Dinasti Bani Umayyah. Akan tetapi Kerajaan Mughal termasuk salah satu kerajaan yang cukup berarti dalam mengkonstruksi peradaban dunia Islam.
Fase kemajuan tiga kerajaan besar tersebut dikenal dengan masa kemajuan Islam II, ketiga kerajaan besar ini mempunyai masa kejayaan masing-masing, inilah yang menarik untuk dukaji lebih lanjut, yang insya Allah penulis akan uraikan dalam makalah ini.

II. PEMBAHASAN

A. Kerajaan Usmani
1.Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah Bangsa Turki dari kabilah Urghus yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara Negeri Cina. Garis keturunan Bani Usmani bersambung pada kabilah Turkamaniyah yang pada abad ketujuh hijriyah atau bertepatan dengan abad ketiga belas masehi, mendiami Kurdistan. Mereka berpropesi sebagai penggembala. Pada tahun 617 H./1220 M., Sulaiman kakek Usman melakukan hijrah bersama kabilahnya menuju Anatolia dan mereka pun menetap di kota akhlath.
Dalam kurun waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh masehi. ketika mereka menetap di asia tengah di bawah tekanan serangan-serangan Mongol pada abad ke-13 M. mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara mereka, orang-orang turki Seljuk di dataran tinggi Asia kecil.
Di daerah ini, di bawah pimpinan Ertoghrul mereka mengabdikan diri pada Sultan Alauddin II (Sultan Seljuk) yang kebetulan berperang melawan Bizatiun. Berkat bantuan mereka Sultan Alauddin Mendapat kemenangan. Atas jasa baik itulah Alauddin menghadiakan tanah di kawasan Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantiun. Di sinilah mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota.
Ertoghrul meninggal dunia pada tahun 1289 M. kepemimpinannya dilanjutkan oleh puteranya, Usman. Putra Ertoghrul Unilah yang dikenal sebagai pendiri kerajaan Usmani. Pada tahun 1300 M. bangsa Mongol menyerang kerajaan Seljuk, dan Sultan Alauddin terbunuh, kerajaan Seljuk Rum akhirnya terpecah-pecah menjadi kerajaan kecil, Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah kerajaan Usmani dinyatakan berdiri, penguasa pertamanya adalah Usman yang juga sering disebut dengan Usman I.

2. Perkembangan dan Masa Kejayaan Kerajaan Usmani
Pada awal terbentuknya kerajaan Usmani hanyalah sebuah emirat di daerah perbatasan, namun kemudian berkembang menjadi menjadi sebuah kerajaan besar. Raksasa baru ini berdiri mengangkang di Borporus satu kakinya di Asia dan kaki lainnya di Eropa.
Setelah Usman I mengumukan dirinya sebagai Padisyah al-Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699 H. / 1300 M. setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya, ia menyerang daerah perbatasan Bizantiun dan menaklukkan kota Broessa yang kemudian dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada masa pemerinatahan Orkhan (726 H./1326 M. - 761 H./1359 M.) kerajaan Turki Usmani dapat menaklukkan Azmir (Smirna) tahun 1327 M., Thawasyanli (1330 M.) Uskandar (13380), Ankara (1354) dan Gallipoli (1356).
Ketika Murad I pengganti Orkhan berkuasa (761 H./ 1359 M. – 789 H./ 1389 M.), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia juga melakukan perluasan daerah ke Benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adrianopel yang kemudian dijadikannya sebagai ibu kota kerajaan baru, ia menaklukkan pula Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang, sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani, pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, Raja Hongaria. Namun Sultan Bayazid I (1389-1403 M.) pengganti Murad I dapat menghancurkan pasukan sekutu kristen tersebut. Peristiwa ini merupakan catatan yang sangat gemilang bagi umat Islam.
Pada saat Sultan Muhammad I berkuasa (1403-1421 M.) ia melakukan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usaha ini kemudian diteruskan oleh Murad II. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II yang biasa disebut Muhammad al-Fatih (1451-1454) ekspansi kembali dilakukan ia berhasil mengalahkan Bizantiun dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1453 M. ketika Sultan Salim I naik tahta (1512-1566 M.) ekspansi wilayah dialihkan ke arah timur dangan menaklukkan Persia, Syiria dan diansti Mamalik di Mesir.
Usaha Sultan Salim I dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520-1566) pada masa pemerintahannya sebagian besar wialyah Hongaria ditaklukkan, Wina tunduk dan Rhodes dapat diduduki. Ia terus melebarkan sayapnya dari Budapes ke Baghdad, dan dari Crimenia hingga air terjun pertama sungai Nil. Pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman inilah merupakan Puncak kejayaan kerajaan Usmani. Sultan Sulaiman dijuluki rakyatnya dengan gelar “al-Qanuni” (pemberi hukum), karena dengan bantuan Ibrahim al-Halabi ia dia berhasil menyusun sebuah kitab Multaqa al-Abhur (titik pertemuan dua lautan) yang kemuadian menjadi karya standar menyangkut undang-undang hukum Kerajaan Usmani.
Kesultanan ini menjadi pusat interaksi antar Barat dan Timur selama enam abad. Pada puncak kekuasaannya, Kesultanan Utsmaniyah terbagi menjadi 29 propinsi dengan Konstantinopel (sekarang Istambul) sebagai ibukotanya. Pada abad ke-16 dan ke-17, Kesultanan Usmaniyah menjadi salah satu kekuatan utama dunia dengan angkatan lautnya yang kuat.
Kemajuan dan perkembangan ekspansi Kerajaan Usmani yang semakin luas dan berlangsung dengan cepat diikuti pula dengan kemajuan-kemajuan dalam bidang kehidupan lain, diantaranya :

a. Bidang Militer
Pada bidang militer, Kerajaan Usmani dikenal mempunyai strategi politik yang jitu. Pembaharuan dalam tubuh organisasi militer tidak hanya dalam bentuk mutasi personil-personil pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan keanggotaan. Bangsa-Bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan jenissari atau inkisyariah. Pasukan inilah yang mampu mengubah Negara Usmani menjadi mesin perang yang sangat kuat. Kerajaan Turki Usmani pada masanya telah jauh meninggalkan negara-negara Eropa di bidang militer.

b. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Keseluruhan kebudayaan Turki merupakan campuran dari beraneka ragam elemen yang berbeda-beda. Dari orang Persia yang telah berhubungan dengan bangsa Turki bahkan sebelum mereka berimigrasi ke Asia barat, lahir corak-corak artistik serta ide-ide politik yang mengangkat keagungan raja.
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak menfokuskan kegiatan mereka dalam bidang militer, sementara dalam ilmu pengetahuan mereka tidak begitu menonjol. Karena itulah dalam khasanah intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuan terkemuka dari kerajaan ini.
Namun demikian mereka banyak berkifrah dalam pengembangan seni arsitektur Islam terutama pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman. Di kota – kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa dan permandian umum. Disebutkan bahwa ada 235 buah bangunan dibangun di bawah koordinator Sinan, seorang arsitek asal Antolia. karya besarnya adalah Masjid Agung Sulaimaniyah yang dirancang untuk menandingi Santa Shofia. Tinggi kubah utama masjid ini adalah enam belas kaki lebih tinggi dari mihrab dan dinding belakang dihiasi dengan porselen yang indah dan anggun bergaya Persia.

c. Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Kerajaan ini sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Karena itu ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan masyarakat.
Pada masa turki Usmani tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang ialah tarekat baktasy dan tarekat maulawi, kedua tarekat ini banyak dianut kalangan sipil dan militer. Namun kajian-kajian ilmu keagamaan seperti Fiqih, ilmu kalam tafsir dan hadits tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para pengausa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham mahzab tertentu, sehingga ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya suka menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyayah (semacam catatan) terhadap karya-karya klasik.

3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Usmani
Kerajaan yang secara umum memprioritaskan perhatian terhadap ekspansi ketimbang memakmurkan rakyat, populasi yang heterogen, kelompok dan ras yang berbeda-beda, dengan garis perpecahan antara Islam dan Kristen bahkan antara muslim Turki dan muslim Arab manjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya bibit-bibit kehancuran yang kelak akan mengikis sendi-sendi kerajaan Usmani.
Tidak lama setelah wafatnya Sulaiman, kerajaan mulai menapaki jalanan yang menurun curam, sebuah perjalanan panjang yang berliku. Para pengganti Sultan Sulaiman al-Qanuni adalah raja-raja yang lemah sehingga tidak bisa mempertahankan keutuhan kerajaan. ditambah dengan Kegagalan serangan kedua ke Wina pada tahun 1683 M. merupakan tanda-tanda awal berakhirnya kejayaan kerajaan. Ekspansi ke Eropa tidak menunjukkan kemajuan yang berarti, peran angkatan bersenjata tidak lagi untuk menyerang tetapi lebih banyak bertahan. Kekuatan internal yang semakin lemah bertambah buruk dengan munculnya gangguan dari luar ketika pada abad ke-18, Prancis, Inggris, Austria dan Rusia mulai melebarkan pengaruh mereka ke wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kerajaan Turki Usmani. Satu persatu wilayahnya lepas. Aljazair merupakan Negara Arab pertama yang memisahkan diri, disusul kemudian di dataran arab dan wilayah Afrika Utara masing-masing membentuk satu blok tersendiri.
Menurut BadriYatim Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab runtuhnya kerajaan Usmani yaitu :

a. Wilayah kekuasaan yang sangat luas sehingga menyulitkan pengawasan secara menyeluruh kesemua wilayah, administrasi pemerintahan pun sangat rumit dan kompleks.
b. Heterogenitas penduduk yang multi etnis dan multi cultural serta multi agama sehingga acap kali menjadi latar belakang terjadinya konplik dan peperangan.
c. Kelemahan para penguasa, sepeninggal Sultan Sulaiman kerajaan Usmani diperintah oleh raja-raja yang lemah, baik dalam kepribadian maupun dalam kepemimpinan. Akibatnya pemerintahan menjadi kacau.
d.Merebaknya budaya atau pungutan liar, setiap jabatan yang hendak diraih harus dibayar sogokan kepada pihak yang berhak memberikan jabatan tersebut.
e.Terjadinya krisis ekonomi, akibat perang yang tidak pernah berhenti. Pendapatan Negara berkurang sementara belanja Negara sangat besar termasuk untuk biaya perang.
Kesultanan Usmaniyah terkikis secara perlahan-lahan pada abad ke-19, sampai akhirnya benar-benar runtuh pada abad 20. Musuh-musuh Islam membutuhkan waktu selama satu abad untuk melepaskan ikatan ideologi Islam dari tubuh umat Islam, yang pada akhirnya tanggal 3 Maret 1924 M. yang bertepatan dengan tanggal 28 Rajab 1342 Hijriah, melalui Mustafa Kemal Attaturk yang merupakan agen Inggris dan anggota Freemasonry (sebuah organisasi Yahudi), membubarkan institusi Kekhilafahan Islam terakhir di Turki dan menggantikannya dengan Republik Turki. Maka, sejak saat itu ideologi Islam benar-benar terkubur ditandai dengan dihilangkannya institusi khilafah oleh majelis nasional Turki dan diusirnya Khalifah terakhir.
Itulah akhir dari masa keemasan kerajaan Turki Usmani, pada masa selanjutnya kelemahan kerajaan ini menyebabkan kekuatan Eropa tanpa segan-segan menjajah dan menduduki derah-daerah muslim yang dulunya berada dalam kekuasaan kerajaan Usmani. meskipun demikian kerajaan ini telah menjadi kerajaan muslim terbesar pada masa modern dan juga menjadi kerajaan muslim terlama sepanjang sejarah, tidak kurang dari tiga puluh enam sultan semuanya laki-laki dari garis keturunan Usman berkuasa dari tahun 1300 M. sampai tahun 1924 M.

B. Kerajaan Safawi

1. Pembentukan Kerajaan Safawi
Kerajaan ini berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Arabil, sebuah kota di Azerbaizan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah. Nama Safawiyah diambil dari nama pendirinya yaitu Safi al-Din (1252-1334 M.). Nama safawi ini terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik, bahkan terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil menjadi sebuah kerajaan.
Safi al-Din adalah keturunan imam syi’ah yang keenam, Musa al-Kazhim. Gurunya bernama Syaik Taj al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301 M.) yang dikenal dengan julukan Zahid al-Gilani. Safi al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah menggantikan gurunya sekaligus mertuanya setelah wafat tahun 1301 M.
Kecenderungan memasuki wilayah politik mendapat wujud konkritnya pada masa kepemimpinan Junaed (1447-1460). Dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan kegiatan ini menimbulkan konplik antara Junaed dengan penguasa kara Kuyunlu (domba hitam), salah satu suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Konplik tersebut memaksa Junaid meninggalkan Ardabil dan meminta suaka politik kepada penguasa Diyar Bakr , AK-koyunlu (domba putih) yang juga salah satu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan yang ketika itu menguasai sebagian besar Persia, sekiligus mengadakan aliansi untuk bersama-sama menghadapi Kara Koyonlu. Aliansi politik semakin kuat dengan menikahnya Junaid dengan saudara Uzun Hasan (Raja Koyunlu), dan bertamba kuat pula dengan perkawinan antara Haidar putra Junaid dengan putri Uzun Hasan.
Pada tahun 1459 M. Junaid berusaha merebut Ardabil, tetapi gagal. Tahun berikutnya mencoba merebut Sircassia namun lagi-lagi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara sirwan, Junaid terbunuh dalam pertempuran tersebut. Meskipun gagal dalam usahanya merebut suatu kekuasaan memperoleh wilayah, namun patut dicatat bahwa Junaid telah berhasil merubah sebuah gerakan tarekat menjadi gerakan politik yang kelak dalam perkembangan selanjutnya menjadi sebuah kerajaan besar yaitu kerajaan Safawi.

2. Perkembangan dan Masa Kejayaan Kerajaan Safawi
Setelah Junaid meninggal maka kepemimpinan Safawi dilanjutkan oleh puteranya yaitu Haidar. Dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1476 M. Haidar yang bekerjasama dengan Ak-Koyunlu mampu mengalahan Kara Kuyunlu sehingga nama Safawi menjadi besar. Akan tetapi hal ini tidak dikehendaki oleh Ak-Koyunlu karena dianggap sebagai kekuatan yang membahayakan kekuasaannya di Persia.
Ak-Koyunlu memandang dianasti Safawi sebagai rival politik dalam meraih kekuasaan selanjutnya. Oleh karena itu ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, Ak-Koyunlu mengirim pasukan untuk membantu pasukan Sirwan sehingga pasukan Safawi kalah dan Haidar terbunuh dalam peperangan itu. Haidar kemudian digantikan oleh putranya, Ali untuk melanjutkan kepemimpinan dinasti Safawi. Namun Ali tidak begitu lama memimpin karena Ali beserta saudaranya dan ibunya ditangkap dan dipenjarakan oleh Ak-Koyunlu.
Kepemimpinan safawi bangkit kembali dalam kepemimpinan Ismail, saudara Ali, dengan pasukannya yang terkenal dengan Qizilbaz (baret merah) yang bermarkas di Gilan berhasil mengalahkan Ak-Koyunlu pada tahun 1501 M. serta menaklukkan dan menduduki Tabriz, ibu kota Ak-Koyunlu. Di kota inilah Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama kerajaan Safawi, yang kemudian ia diberi gelar Ismail I.
Ismail I ini berkuasa selama lebih kurang 23 tahun (1501-1524). Pada masa sepuluh tahun pertama kekuasaannya ia mampu memperluas wilayahnya dengan menghancurkan sisa-sisa keuatan Ak-Koyunlu sehingga ia mampu mendududki seluruh wilayah Persia. Tidak sampai di situ ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap menguasai daerah–daerah lainnya, termasuk Turki Usmani. Namun kekuatan militer kerajaan Usmani sangat kuat maka Safawi selalu mengalami kekalahan, malah Turki Usmani dibawah kepemimpinan sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Safawi bisa selamat karena Sultan Salim segera pulang ke Turki karena terjadi perpecahan dikalangan militer di negerinya.
Permusuhan dengan kerajaan Usmani terus berlangsung sepeninggal Ismail, yaitu pada masa pemerintahan Tahmasp I (1524-1576), Ismail II (1576-1577), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587). Pada masa ketiga raja tersebut kerajaan Safawi dalam keadaan lemah. Kondisi memprihatinkan tersebut baru bisa diatasi setelah raja safawi kelima , Abbas I naik tahta (1588-1628). Langkah awal yang ditempuhnya adalah dengan membenahi situasi politik dalam negeri, setelah merasa kuat barulah memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut kembali wialayah kekuasaannya yang hilang.
Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Secara politik ia mampu mengatasi berbagai kemelut dalam negeri yang mengganggu stabilitas Negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang pernah direbut kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya. Di bidang lain kerajaan ini juga mengalami banyak kemajuan diantaranya :

a. Bidang Ekonomi
Stabilitas politik kerajaan Safawi di masa Abbas I mampu memicu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun dirubah menjadi Bandar Abbas. Dengan dikuasainya bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara timur dan barat yang biasa diperebutkan oleh Inggris, Prancis dan Belanda menjadi milik Safawi. Di samping sektor perdagangan, kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian.

b. Bidang Ilmu Pengetahuan
Kerajaan Safawi mampu melahirkan beberapa ilmuwan yang selalu hadir di majelis istana, yaitu Baha al-Din al-Syaeraszi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar al-Din al-Syaerazi (filosof) dan Muhammad Baqir ibnu Muhammad Damad, Filosof, ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah.
Dalam sejarah Islam kerajaan Safawi adalah kerajaann yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kearajaan ini lebih maju dari dua kerajaan lainnya pada yang sama dalam bidang ilmu pengetahuan.

c. Bidang Pembangunan Fisik dan Seni.
Para penguasa kerajaan ini telah berhasil menciptakan Isfahan ibu kota kerajaan menjadi kota yang sangat indah. Di kota tersebut berdiri bangunan-bangunan besar lagi indah seperti masjid, rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas zende Ruud dan istana Chihil sutun.
Di bidang seni terlihat dari arsitektur bangunan-bangunannya, unsur seni lainnya terliahat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian, tembikar dan benda seni lainnya. Demikian masa kemajuan kerajaan safawi, walaupun tidak setaraf dengan kemajuan Islam di masa klasik, namun kerajaan ini telah memberikan kontribusinya mengisi peradaban Islam.

3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Sepeninggal Abbas I kerajaan Safawi diperintah oleh enam raja secara berturut-turut, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M.), Abbas II (1642-1667), Sulaiman, (1667-1694), Husain, (1694-1722), Tahmasp II (1722-1732), dan Abbas III (1733-1736). Pada masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, melainkan kemunduran dan akhirnya membawa kepada kehancuran.
Ke-enam raja tersebut adalah orang yang lemah dalam memimpin kerajaan, umumnya mereka hidup bersenang-senang bahkan mabuk-mabukan seperti Abbas II. Sedangkan sultan Sulaiman suka bertindak kejam terhadap pembesar-pembesar yang dicurigai berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, sehingga timbul perpecahan dan rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintahan. Demikian juga Syah Husain yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut Sunni, akibatnya membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afganistan kemudian memicu terjadinya pertempuran, dan Husain I mengalami kekalahan penganut Sunni akhirnya menguasai wilayah Isfahan.
Putra Husain, Tahmasp II dengan dukungan suku Qashar dari Rusia memprolamirkan dirinya sebagai raja yang sah dari Persia pada tahun 1726 M. Tahmasp II bekerja sama dengan Nadhir Kahn dari suku Afgan berhasil merebut kembali Isfahan. Namun pada bulan agustus tahun 1732 M. Tahmasp II diturunkan oleh Nadhir Khan dan digantikan oleh Abbas III (anak Tahmasp II), yang ketika itu masih sangat kecil. Empat tahun setelah itu tepatnya 8 maret 1736 M. Nadhir Khan mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Abbas III, dengan demikian berakhirlah kekuasaan dianasti Safawi di Persia.

C. Kerajaan Mughal

1. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mughal
Dinasti Mughal tergolong kerajaan besar Islam termuda dibandingkan dua kerajaan Islam di masanya. Dinasti Mughal berkedudukan di India yang didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1482-1530 M) dari keturunan Turki Chagathai. Ayahnya bernama Umar Mirza atau Umar Syaikh Abi Said ia adalah generasi kelima dari Timur Lenk yang menjadi penguasa di sebuah kesultanan kecil Timuriyah di Asia Tengah, yakni Farghana. Sedangkan ibunya berasal dari keturunan Jenghis Khan.
Kerajaan Mughal sebagai kerajaan yang pernah berkuasa, sebenarnya bukanlah awal mulanya Islam datang di India, akan tetapi, pada dasarnya Islam awalnya telah ada sejak masa khalifah al-Walid dari Dinasti Umayyah. Itu artinya bahwa Islam telah lama dikenal oleh masyarakat sebelum berdirinya kerajaan Mughal.
Zahiriruddin Babur adalah sosok pribadi yang disegani pada masanya, tidak heran kalau ia digelar “The Lion King”. Peranan orang tuanya sangat mendukung dirinya sebagai pejuang dan penguasa kaliber nantinya. Ketika ayahnya wafat pada tahun 1494 M, ketika itu Babur baru berusia 14 tahun. Sebagai pewaris tahta dari nenek moyangnya, Timur Lenk, ia pun memulai melakukan ekspansi ke berbagai wilayah hingga pada tahun 1504 M. dapat merebut Kabul dan Gazni. Pada tahun 1525 M. dengan mudah ia dapat pula merebut Punjab dan tak henti-hentinya bergerak untuk menguasai daerah-daerah lainnya seperti Delhi dan Panipat yang sudah lama dikuasai oleh Ibrahim Lodi. Setelah perlawanan Ibrahim Lodi dikalahkan pula, Babur menghadapi serangan dari Ranasanga, penguasa Mewar yang berkoalisi dengan penguasa Amber, Gwaleor, Ajmer, Chandri dan Sultan Mahmud Lodi pada tahun 1529 M.
Pertempuran ini tergolong amat dahsyat dibandingkan dengan pertempuran-pertempuran lainnya pada masa itu. Babur sebagai perwira yang gagah berani selalu memotifasi semangat bala tentaranya yang sedang panik menghadapi lawan-lawannya, sehingga pada akhirnya kemenangan itu berada di pihaknya dan kota Delhi yang telah direbut ia jadikan ibu kota. Dengan demikian berdirilah kerajaan Mughal di India. Pada tahun 1530 M, Babur wafat dalam usia 48 tahun setelah memerintah selama 30 tahun dengan meninggalkan kejayaan yang cemerlang.
2. Perkembangan dan Kemajuan Kerajaan Mughal
Sepeninggal Zhiruddin Babur, tahta kerajaan dilimpahkan kepada putera tertuanya, Humayun. Humayun memerintah selama sembilan tahun (1530-1539 M). dalam masa kepemimpinannya bukannya mengalami kemajuan akan tetapi justru sebagian wilayah yang pernah dikuasai ayahnya tidak mampu dipertahankan. Hal ini disebabkan keterampilan politik Humayun tidak sebaik ayahnya.
Situasi politik kerajaan Mughal kemudian stabil kembali setelah Jalal al-Din Abd al-Tahir Muhammad Akbar (1556-1606 M). tampil menggantikan posisi ayahnya, Humayun. Di tangan Akbar inilah kerajaan Mughal mencapai masa keemasannya. Sifat kecerdasan, keberanian dan kecakapan yang dimiliki oleh Akbar, mampu menata situasi dalam negeri sehingga menjadi kondusif. Setelah itu akbar mulai menyusun program ekspansi, ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Bengal, Orissa, Deccan, Narhala, Gujarat, Kashmir, dan Asirgah. Wilayah yang luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan militeristik.
Akbar juga menerapkan politik sulakhul (toleransi universal). Dengan politik ini semua rakyat india dipandang sama. Mereka tidak dibedakan Karena perbedaan etnis dan agama. Dalam soal agama Akbar mempunyai pendapat yang liberal dan ingin menyatukan semua agama dalam satu bentuk agama baru yang diberi nama Din Ilahi.
Kemajuan masa pemerintahan Akbar masih dapat dipertahankan oleh tiga sultan setelahnya yaitu Jehangir (1605-1628 M.), Syah Jehan (1628-1658 M.) dan Aurangzeb (1658-1707). pada masa ini kerajaan Mughal betul-betul berkibar. Dalam bidang ekonomi, kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan, akan tetapi sumber perdagangan Negara lebih banyak bertumpuh pada sektor pertanian. Di samping itu bidang ekonomi, bidang seni dan budaya juga berkembang. Karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun yang berbahasa India. Karya seni yang masih dapat dinikmati sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa Akbar dibangun istana Fatfursikri, villah dan masjid-masjid yang indah. Pada masa Syah Jehan dibangun Taj Mahal , Masjid Raya Delhi dan Istana indah di Lahore.

3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal
Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaan, maka pada abad ke-18 kerajaan ini mamasuki masa-masa kemunduran. Para pelanjut Aurangzeb tidak bisa mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Kekuasaan politik mulai merosot, suksesi pemerintahan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan. Gerakan separatis Hindu semakin mengancam, sementara pedagang Inggris untuk pertama kalinya diizinkan oleh Sultan Jihangir menanamkan modal di India. Dengan didukung kekuatan bersenjata yang kuat akhirnya menguasai daerah pantai.
Pada masa Aurangzeb pemberontakan terhadap pemerintah pusat memang sudah muncul, tetapi bisa diatasi. dengan pemikiran puritanisme sultan Aurangzeb juga menjadi titik munculnya konplik, setelah ia wafat penerusnya tidak mampu menghadapi problem yang ditinggalkan Aurangzeb. Sepeninggal Aurangzeb Mughal dipimpin oleh Muazzam yang bergelar Bahadur Syah. Akan tetapi karena sikapnya yang terlalu memaksakan ajaran Syi’ah, maka penduduk Lahore mangadakan perlawanan.
Konplik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap wilayah lemah. disintegrasi wilayah pun tak bisa dihindari, satu persatu daerah melepaskan diri dari pemerintah pusat dan masing-masing memperkuat pemerintahannya sendiri-sendiri. Hiderabad dikuasai oleh Nizam al-Mulk, Marathas dikusai oleh Shivaji, Rajput mendirikan pemerintahan sendiri di bawah pimpinan Jai Singh dari Amber, Punjab dikuasai kelompok Syikh, Oudh dikuasai Sadat Khan, Banegal dikuasai Syuja’ al-Din, sementara wilayah pantai dikuasai pedagang asing terutama EIC dari Inggris.
Pada tahun 1857 M. terjadilah perlawanan rakyat India terhadap Inggris dan berakhir dengan kemenangan Inggris, bahkan Bahadur Syah, raja terakhir Mughal diusir dari istana (1858 M.) dengan demikian berakhir sudah sejarah kekuasaan kerajaan Mughal di daratan India, dan tinggallah di sana umat yang harus berjuang mempertahankan eksistensi mereka.

0 komentar:

Poskan Komentar