IBNU RUSYD ( Pembelaan Ibnu Rusyd Terhadap Filosof, Kritik Terhadap Al-Ghazali, Averroisme dan Renaisans di Eropa)

On Minggu, 05 Desember 2010 1 komentar

Oleh : MUSTANAN

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Berfilsafat merupakan bagian dari peradaban manusia. Semua peradaban yang pernah timbul di dunia pasti memiliki filsafat masing-masing. Kenyataan ini sekaligus membantah pandangan bahwa yang berfilsafat hanya orang Barat saja, khususnya orang Yunani. Dalam konteks hubungan filsafat Barat dengan filsafat Islam ternyata keduanya mimiliki hubungan yang sangat akrab ini terjadi terutama dalam bentuk tukar menukar pemikiran.
Pengaruh dominan filsafat Yunani terhadap pemikiran filsafat dalam Islam tidak terbantahkan, bahkan dominasi tersebut diakui oleh para filosof Muslim. Secara diplomasi Alkindi mengatakan bahwa filsafat Yunani telah membantu umat Islam dengan bekal dan dasar-dasar pikiran serta membuka jalan bagi ukuran-ukuran kebenaran. Karena itu, beberapa teori filsafat Yunani, khususnya Aristoteles dipandang sejalan dengan ajaran Islam seperti teori ketuhanan, jiwa dan roh, penciptaan alam dan lain-lain.
Alkindi dan juga beberapa filosof Muslim setelahnya muncul sebagai penerjemah dan pen-syarah filsafat Yunani. Bahkan Ibnu Rusyd dikenal sebagai komentator Yunani memandang Aristoteles sebagai seorang pemikir besar yang pernah lahir. Ia seorang bijaksana yang memiliki ketulusan keyakinan. Maka dalam syairnya Divine Comedy Dante mengatakan Ibnu Rusyd sebagai komentator terbesar terhadap filsafat Aristoteles dimasanya, mengalahkan keterkenalannya dalam pengetahuan lain seperti fisika, kedokteran dan astronomi .
Ibn Rusyd (1126-1198), atau yang lebih terkenal dengan sebutan Ibn Rusyd atau Averroes, adalah filosof Muslim Barat terbesar di abad pertengahan. Dia adalah pendiri pikiran merdeka sehingga memiliki pengaruh yang sangat tinggi di Eropa. Michael Angelo meletakkan patung khayalinya di atas atap gereja Syktien di Vatikan karena ia dipandang sebagai filosof free thinker. Dante dalam Divine Comedia-nya menyebutnya “Sang Komentator” karena dia dianggap sebagai komentator terbesar atas karya-karya Aristoteles.
Dominasi pengaruh filsafat Yunani demikian tak pelak menimbulkan masalah dan tantangan tersendiri terhadap eksistensi filsafat Islam. Secara internal muncullah kritisisme dan bahkan tuduhan negatif oleh kalangan ulama orthodok terhadap pemikiran filsafat dalam Islam. Secara eksternal ada sanggahan bahwa sebenarnya filsafat Islam tidak ada, yang ada hanyalah umat Islam memfilsafatkan filsafat Yunani agar sesuai dengan ajaran Islam. Persoalannya adalah apakah benar filsafat telah menyelewengkan keyakinan Islam? Dengan demikian, benarkah para filosof Muslim adalah ahli bid’ah dan kufr? Seperti terlihat dalam tuduhan-tuduhan kaum orthodok termasuk al-Ghazali.
Al-Ghazali menuduh telah ada kerancuan dalam pemikiran para filosof. Sedemikian konpleknya persoalan-persoalan yang dikritik al-Ghazali sehingga banyak komentator yang beranggapan bahwa penolakan itu sama halnya untuk menjauhkan filsafat dari peradaban Islam. Salah satu kritik yang dilancarkan al-Ghazali terhadap para filosof muslim ialah kecenderungan mereka meremehkan syiar-syiar agama Islam. Mereka (para filosof muslim) lebih tertarik pada ajaran-ajaran Socrates, Plato dan Aristoteles di bidang logika, kosmologi dan teologi. Menurut al-Ghazali apa yang dianggap para filosof itu sebagai suatu kebijaksanaan (wisdom) tak lain adalah kesesatan yang nyata. Ibnu Rusyd mananggapi pernyataan tersebut dengan dengan membuat analogi bahwa Allah sebagai sang pencipta mengeluarkan banyak sifat produksi dan mampu mendatangkan sifat-sifat yang spektakuler, namun ada saja yang mencemoh dan meremehkan hal tersebut. Sehingga yang meremehkan itu menunjukkan bahwa mereka tergolong ulama yang bodoh.
Menanggapi hal tersebut Ibnu Rusyd tampil sebagai pembela para filosof dengan menulis buku yang cukup terkenal, tahafut at-tahafut sebagai sanggahan terhadap tuduhan al-Gazali. Ibnu Rusyd menyanggah tuduhan al-Ghazali tersebut dengan menyatakan bahwa tujuan al-Ghazali untuk memutlakkan kekuasaan Tuhan dengan cara menghapus hukum sebab-akibat justru kontraproduktif. Penolakan hukum sebab-akibat akan menghancurkan seluruh basis untuk mengarahkan seluruh proses kejadian di alam kepada tuhan. Al-Ghazali secara tidak sadar telah menghancurkan satu-satunya dasar logis di atas mana kekuasaan Tuhan terhadap alam bersandar. Pandangan itu sangat membahayakan filsafat, ilmu dan juga teologi.
Persoalan ini sangat urgen untuk diselesaikan karena sudah menyangkut persoalan sensitif keimanan dan karena ternyata ikhtilaf dalam metode keilmuan untuk memahami ajaran agama sampai pada klaim-klaim kebenaran tentang status agama seseorang. Karena itu persoalan ini diangkat dalam makalah ini dengan tema sentralnya Ibnu Rusyd.


II. PEMBAHASAN

A.Riwayat Hidup Ibu Rusyd

Diantara para filosof Islam, Ibnu Rusyd adalah salah seorang yang paling dikenal dunia Barat dan Timur. Nama lengkapnya Abu al-Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Rusyd, lahir di Cordova, Andalus pada tahun 520 H./ 1126 M. sekitar 15 tahun setelah wafatnya Abu Hamid al-Ghazali. . Ibnu Rusyd dibesarkan dalam suatu keluarga yang memiliki ilmu pengetahuan dan keteguhan agama. Ayah Ibnu Rusyd yaitu Abul Qasim Ahmad adalah pernah jadi hakim Cordova, pada zamannya ia sangat terkenal dengan pengetahuannya di bidang fiqih dan pernah menjadi qadhi al-qudhat (hakim agung) di Andalusia.
Pengetahuan dalam keluarga ini sudah tumbuh sejak lama yang kemudian semakin sempurna pada diri Ibnu Rusyd. Karena itu, dengan modal dan kondisi ini ia dapat mewarisi sepenunya intelektualitas keluarganya dan menguasai berbagai disiplin ilmu yang ada pada masanya. Tampak di sini bahwa Ibn Rusyd terlahir dari keluarga ahli-ahli fiqh dan hakim-hakim. Tidak mengherankan jika salah satu karyanya yang sangat terkenal, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid, merupakan karyanya dalam bidang fiqhi. Buku ini merupakan suatu studi perbandingan hukum Islam, di mana di dalamnya diuraikan pendapat Ibn Rusyd dengan mengemukakan pendapat-pendapat imam-imam fiqh.
Dia juga sebagai seorang dokter dan astronomer. Tapi, posisi ini kurang terkenal dibanding dengan reputasinya sebagai filosof. Dia dianggap sebagai salah satu dokter terbesar di zamannya. Menurut Sarton dia adalah orang pertama yang menerangkan fungsi retina dan orang pertama yang menjelaskan bahwa serangan cacar pertama akan membuat kekebalan berikutnya pada orang yang bersangkutan.
Pada tahun 1153 M. ( 548 H.) Ibnu Rusyd diminta datang ke maroko ( ibu kota pemerintahan) oleh khalifah Abdul Mu’min Ibnu Tumart (pendiri kerajaan mutawahhidin) dengan maksud untuk memberi petunjuk dan sumbangan pemikiran kepada sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga keilmuan yang sedang didirikan di sana.
Pada tahun 1182 M. ia dipanggil oleh khalifah di Maroko untuk menjadi dokter pribadi kerajaan, namun tidak lama kemudian ia dipulangkan ke Cordoba untuk menjabat hakim agung. Akan tetapi kedudukan istimewah yang dialami Ibnu Rusyd akhirnya berakhir, karena pada tahun 1198 M. di masa khalifah Abu Ya’qub para fuqaha yang mandapat kedudukan istimewah pada diri khalifah sangat menentang filsafat, maka ilmu filsafat tertindas dan filosof dituduh telah menjadi kafir serta buku-bukunya dibakar.
Ibnu Rusyd kemudian diasingkan di sebuah kampung Yahudi bernama Alisanah kurang lebih 50 km sebelah tenggara kota Cordoba. Hidup dalam pengasingan tidaklah lama dialami Ibnu Rusyd, hanya kurang lebih satu tahun. setelah keadaan kondusif, Khalifah segera mencabut hukumannya dan posisi Ibnu Rusyd direhabilitasi kembali. Tidak lama menikmati semua itu, Ibnu Rusyd wafat pada 1198 M./ 595 H. di Marakesh dan usia 72 tahun menurut perhitungan Masehi dan 75 tahun menurut perhitungan hijriyah.
Ibnu Rusyd telah menulis banyak buku yang menjadi rujukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, diantaranya : fashl al-Maqal fi ma Bayn al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Attishal, buku tersebut mengungkap metode rasional yang menjadi landasan Ibnu Rusyd dalam pembahasan persoalan filsafat; Talkhis Kitab al-Nafs yang membahas teori pengatahuan; Kulliyat fi al-Tibb, buku yang membahas tentang ilmu kedokteran; Tafsir ma Ba’d a-Thabi’ah, berisi pengetahuan penting dan penjelasan khusus mengenai penafsiran juga kritik Ibnu Rusyd terhadap mutakllimin; dan yang paling terkenal adalah Tahafut at-Tahafut yang berisi tentang sanggahannya terhadap pemikiran al-gazali; serta banyak agi yang lain
Kecintaan pada ilmu pengetahuan membentuk kepribadian Ibnu Rusyd sebagai seorang inklusif, toleran dan suka memberi maaf, dia adalah filosof kenamaan yang tidak hanya dikenal dikalangan Islam, melainkan juga dikalangan pemikir-pemikir barat. Ibnu Rusyd tidak hanya menulis karya filsafati ia juga menulis tentang pengobatan , tentang fauna, masalah kosmologi, teologi logika dan berbagai karya lainnya. Namun yang paling masyhur adalah tahafut at tahafut.

B. Pembelaan Ibnu Rusyd terhadap Filosof dan Sanggahannya terhadap Al-Ghazali
Seperti disebut diatas, bahwa Ibnu Rusyd hidup dan melontarkan pemikirannya beberapa puluh tahun setelah al-Ghazali wafat (w. 505 H/ 1111 M). Dimasa hidupnya, Al-Ghazali mendalami ilmu filsafat dan telah menulis buku sebagai kesimpulan tentang kajiannya terhadap ajaran ilmu filsafat, yang terkenal adalah bukunya Tahafuth al-fala>sifah. Buku tersebut khusus ditujukan untuk menyerang paham filsafat dan membuktikan kekeliruan padanya dari ajaran agama, khususnya filsafat Al-Farabi dan Ibnu Sina. Dalam kesimpulannya, al-Ghazali menetapkan dua puluh soal sebagai bathil delapan diantaranya khusus membahas problematika ketuhanan, dan pada akhir bukunya tiga soal diantaranya adalah kafir, sehingga dari sini ia mengkafirkan para filosof. Tiga soal tersebut adalah:

1. Pendapat filosof bahwa alam itu azali atau qadim (eternal in the past)
2. Pendapat filosof bahwa Tuhan tidak mengetahui juz’iyat (hal-hal yang juz’i/ individual/ partikular).
3. Paham filosof yang mengingkari adanya kebangkitan tubuh di hari akhirat.

Menurut Aziz Dahlan, itu berarti bahwa siapa saja yang menganut salah satu dari tiga paham tersebut, menurut Al-Ghazali, jatuh ke dalam kekafiran. Polarisasi dan kesimpulan ini mampu mempengaruhi pemahaman umat sehingga menjadi sanggahan dan serangan tajam terhadap filsafat dan filosof. Hal demikian berimplikasi pada sikap negatif dan penolakan umat pada ilmu ini yang akhirnya menutup pintu kajian terhadap ilmu-ilmu fisafat di dunia Islam.
Kecaman keras al-Ghazali tersebut membuat Ibnu Rusyd memberikan sanggahan dalam kitabnya Taha>fut at-Taha>fut. Ibnu Rusyd melakukan tiga upaya sekaligus yaitu membela para filosof yang dikafirkan Al-Ghazali, melakukan klarifikasi paham filsafat dan menyanggah paham Al-Ghazali. Pembelaan terhadap para filosof dilakukan dengan merumuskan harmonisasi agama dan filsafat, klarifikasi paham filsafat dilakukan dengan menguraikan maksud filsafat yang sebenarnya tentang soal-soal yang dikafirkan dan sanggahan terhadap Al-Ghazali dengan mengelaborasi kesalahan persepsinya. Semua itu dilakukan Ibnu Rusyd dengan berpikir rasional dan menafsirkan agama pun secara rasional, namun ia tetap berpegang pada sumber agama itu sendiri, yaitu al-Quran . Adapun sanggahan Ibnu Rusyd terhadap pendapat al-Ghazali adalah sebagai berikut :

1.Harmonisasi Agama dan Filsafat
Masalah hubungan agama dan filsafat merupakan persoalan yang krusial pad masa ibnu Rusyd. Sebagai pemikir rasional, Ibnu Rusyd berusaha mendudukkan hubungan filsafat dengan agama.
Dalam buku fashl al-Maqal, Ibnu Rusyd mengawali kajiannya dengan mempertanyakan bagaiman hukum mempelajari filsafat dan manthiq (logika), apakah diperbolehkan menurut syara’, ataukah dilarang, ataukah diperintahkan, baik sebagai perintah anjuran ataupun perintah wajib?. Menurut Ibnu Rusyd, kegiatan filsafat tidak lain adalah mempelajari segala wujud yang tampak. Dari sini diambilllah I’tibar (pelajaran) sehingga sampai kepada bukti kebenaran Tuhan. Dengan demikian kerja filsafat pada hakikatnya adalah untuk mengenal tuhan sebagai pencipta alam.. Disisi lain, syari’at sendiri mendorong manusia untuk mengadakan penalaran dan perenungan terhadap semua wujud ini. menurutnya telah memerintahkan dan mendorong kita untuk mempelajari segala yang ada. Disini ia ingin mengatakan bahwa menurut syara’, pengertian demikian menunjukkan bahwa mempelajari filsafat itu adalah perintah wajib atau perintah anjuran.
Dari penjelasan tersebut, Ibnu Rusyd menyimpulkan bahwa berfilsafat sebenarnya tidaklah dilarang oleh syari’at bahkan diperintahkan, setidak-tidaknya dianjurkan. Hal ini didukung dengan ayat al-Qur’an yang banyak memerintahkan manusia untuk menalar dan merenungi penomena alam dengan memakai afala ta’qilu>n, afala tatafakkaru>n, afala yanzhuru>n, dan sebagainya. Diantara ayat-ayat tersebut terdapat dalam Q.S. al-Hasyr/59 : 2, Q.S al-An’am /7 : 75, Q.S. al-Ghasiyah/88 : 17-20, Q.S. Ali-Imran/3 :191.

2.Qadimnya Alam
Doktrin utama filsafat Ibn Rusyd yang membuatnya dicap sebagai murtad berkaitan dengan keabadian dunia, sifat pengetahuan Tuhan dan kekekalan jiwa manusia dan kebangkitannya. Membaca sekilas tentang Ibn Rusyd memang bisa memberi kesan bahwa dia murtad dalam hubungannya dengan masalah-masalah tersebut, tapi penelaahan yang serius akan membuat orang sadar bahwa dia sama sekali tidak menolak ajaran Islam. Dia hanya menginterpretasikannya dan menjelaskannya dengan caranya sehingga bisa sesuai dengan filsafat.
Terhadap doktrin keabadian dunia, dia tidak menolak prinsip penciptaan (creation), tapi hanya menawarkan satu penjelasan yang berbeda dari penjelasan para teolog. Ibn Rusyd memang mengakui bahwa dunia itu abadi, tapi pada saat yang sama membuat pembedaan yang sangat penting antara keabadian Tuhan dengan keabadian dunia. Ada dua macam keabadian: keabadian dengan sebab dan keabadian tanpa sebab. Dunia bersifat abadi karena adanya satu agen kreatif yang membuatnya abadi. Sementara, Tuhan abadi tanpa sebab. Lebih dulunya Tuhan atas manusia tidak terkait dengan waktu. Keberadaan Tuhan tidak ada kaitannya dengan waktu karena Dia ada dalam keabadian yang tak bisa dihitung dengan skala waktu. Lebih dulunya Tuhan atas dunia ada dalam keberadaan-Nya sebagai sebab yang darinya muncul semua keabadian.
Al-Ghazali dan para teolog muslim berpandangan bahwa Allah menjadikan alam dari ketiadaan (cretio ex nihilo). Pendapat ini menurut Ibnu Rusyd tidak valid dan tidak punya landasan yang kuat. Dalam al-Qur’an tidak ada ayat yang menjelaskan bahwa Allah ada bersama-sama dengan ketiadaan murni. Artinya Allah ada terlebih dahulu, kemudian dalam kesendiriannya baru Dia menciptakan alam. Pendapat tentang cretio ex nihilo ini adalah ta’wil para teolog terhadap al-Qur’an.
Makna - makna diatas menurut Ibnu Rusyd tidak bertentangan dengan al-Quran, sebab tidak ada perselisihan dalam menempatkan bahwa Allah adalah penciptaan alam keseluruhan ini. Jadi menurut filosof, qadimnya alam tidak sama dengan qadimnya Allah, tetapi yang mereka maksudkan adalah yang ada berubah menjadi ada dalam bentuk lain. Karena penciptaan dari tiada (al-‘adam), adalah mustahil dan tidak mungkin terjadi. Dari tidak ada tidak bisa terjadi sesutau, oleh karena itu materi asal alam ini mesti qadim. Ibnu Rusyd memperkuat pendapatnya pada beberapa ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan alam dari sesuatu yang telah ada bukan dari ketiadaan. Seperti dalam Q.S. Hud / 11 : 7, sebagai berikut :

Terjemahnya :
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air……….

Ayat di atas menunjukkan bahwa sebelum bumi dan langit diciptakan, telah ada benda lain yang terlebih dahulu diciptakan. Berarti bahwa alam yang diciptakan Allah bukan dari ketiadaan, sebagiamana interpretasi teolog. Maka disini Ibnu Rusyd membuktikan paham qadim-nya alam tidak bertentangan dengan ajaran al-Quran. Dalam hal ini kaum teolog yang menyatakan alam diciptakan Tuhan dari tiada justeru tidak mempunyai dasar pijakan dalam ajaran al-Quran.
Dalam hal ini ada perbedaan antara teolog dan dan filosof dalam memahami makna hadis\ dan qadim. Bagi teolog, hadis\ itu adalah sesuatu yang diciptakan dari yang tiada dan qadim adalah sesuatu yang berwujud tanpa sebab. Sedangkan filosof memahami hadis\ sebagai sesuatu yang diciptakan tidak bermula dan tidak berakhir. Karena perbedaan tersebut hanyalah perbedaan pemahaman dan bukan merupakan perinsip aqidah Islam maka seharusnya al-Gazali tidak menkafirkan pendapat filosof dalam masalah ini.

3. Gambaran Kebangkitan di Akhirat
Dalam masalah ini al-Ghazali memandang filosof berpendapat kebangkitan di akhirat nanti adalah bersifat rohani, yang akan menerima baik atau buruk atas perbuatan manusia di dunia adalah rohaninya, bukan jasmani. Menurut Ibnu Rusyd, filosof mengakui tentang adanya kebangkitan di akhirat, tetapi mereka berbeda interpretasi mengenai bentuknya. Ada yang mengatakan bahwa yang akan dibangkitkan hanya rohani saja dan ada yang mengatakan jasmani dan rohani. Namun yang pasti, kehidupan di akhirat tidak sama dengan kehidupan di dunia ini. Jadi para filosof tidak berpendapat seperti yang dituduhkan al-Ghazali bahwa filosof hanya berpaham bahwa kebangkitan hanya bersifat rohani. Para filosof mengakui kebangkitan rohani di hari kemudian tetapi juga tidak menolak adanya kebangkitan jasmani.
Sebaliknya, menurut Ibnu Rusyd justeru al-Ghazali sendiri tidak konsisten, dalam taha>futh al-fala>sifah dikatakan bahwa tidak ada ulama yang berpendapat bahwa kebangkitan di akhirat hanya bersifat rohani semata. Akan tetapi dalam bukunya yang lain, Al-Ghazali mengatakan bahwa kaum sufi berpendapat yang akan terjadi di akhirat adalah kebangkitan rohani. Dalam hal ini ia berpendapat sama dengan filosof, karena baik filosof maupun sufi mengalami puncak kebahagiaan pada rohani dan telah melepaskan diri dari kungkungan kebendaan.
Gambaran al-Qur’an tentang kebangkitan jasmani di hari kemudian itu untuk konsumsi orang awam yang masih berpikir sederhana dan belum mampu menagkap pesan-pesan al-Qur’an secara abstrak. Bagi mereka penggambaran kebangkitan jasmani ini adalah untuk memotivasi mereka untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jahat.

4. Pengetahuan Tuhan
Dalam masalah pengatahuan Tuhan, al-Ghazali menuduh para filosof berpendenrian bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang kecil, kecuali dengan cara yang kulliyat (umum, universal) yang terbatas ruang dan waktu. Dalam tuduhannya ini al-Ghazali memandang pendapat filosof demikian tidak bisa diterima. Sebagai pencipta menurut al-Ghazali tuhan tidak mungkin tidak mengetahui setiap yang terjadi di alam raya ini.
Ibnu Rusyd menjawab tuduhan al-Ghazali dengan menegaskan bahwa al-Ghazali telah salah paham terhadap filosof. Tidak ada filosof muslim pun yang berpendapat demikian. Ibnu Rusyd meluruskan bahwa pendapat filosof bahwa pengetahuan Tuhan tentang rincian (juz’iyyat) berbeda dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia adalah mengambil bentuk efek atau melalui panca indera, sedangkan pengetahun Tuhan merupakan sebab bagi terwujudnya rincian tersebut. Karena itu pengetahuan manusia bersifat baharu dan pengetahuan Tuhan bersifat qadim.
Tuhan mengetahui segala yang terjadi di alam ini. Namun begitu pengetahuan Tuhan tidak dapat diberikan sifa-sifat juz’iyyat atau kulliyat, karena sifat-sifat yang demikian hanya dapat dikaitkan kepada mahluk saja. Yang pasti pengetahuan Tuhan hanya dapat diketahui oleh Tuhan sendiri.
Tiga persoalan ini, karena tidak ada nash al-Qur’an maupun hadits Nabi saw. Yang menegaskannya, maka ini membutuhkan pemikiran kreatif manusia untuk memahaminya. Secara prinsip semua umat Islam mengakui penciptaan alam oleh Allah, sifat Allah yang maha mengetahui dan adanya kebangkitan manusia di hari akhirat. Hanya saja mereka berbeda dalam hal-hal yang bersifat interpretatif dan teknis. Karena itu tidak sepantasnya mereka saling mengkafirkan, karena pendapat mereka tidak bertentangan dengan pendapat umat Islam pada umumnya.

C. Peranan Ibnu Rusyd Terhadap Averroisme dan Renaisans di Eropa

1. Peranan Ibnu Rusyd terhadap Averroisme
Di tangan Ibnu Rusyd, filsafat menjadi demikian menantang dan menarik minat banyak orang untuk mendalaminya. Paham rasional yang dikembangkannya menjadi titik terang bagi bangsa Eropa untuk meneropong persoalan peradaban dan keagamaan mereka. Kias rasional, takwil dan pengetahuan burhani merupakan bentuk tertinggi dalam pemikiran Muslim yang menjadikan peradaban Muslim unggul dan maju. Ini adalah tantangan secara diametreal bagi paham keagamaan Kristen yang terbelakang karena tertutup, otoriter dan dogmatis.
Dalam masyarakat muslim, Ibnu Rusyd dikenal sebagai pembela filsafat dan filosof sementara dikalangan bangsa Eropa dikenal sebagai komentator Aristoteles yang membawa semangat rasional dan pencerahan bagi mereka. Para sarjana barat di abad pertengahan banyak dipengaruhi pandangan-pandangan filsafat Aristoteles yang dikembangkan oleh Ibnu Rusyd. Pengaruh Ibnu Rusyd semakin memperlihatkan bentuknya dengan munculnya gerakan Averroisme di barat yang mencoba mengembangkan gagasan-gagasan rasional Ibnu Rusyd. Tokoh yang terkenal sebagai pelopor gerakan ini adalah Siger de Brabant (1235-1282).
Pada mulanya pemikiran Ibnu Rusyd tidak mudah berkembang di Eropa karena mendapat kecaman keras dari gereja. Mereka mengharamkan pembacaan buku-buku terjemahan karya Ibnu Rusyd dan melalui inkuisisi menghukum para pengikut Averroisme. Mereka memandang bahwa ajaran-ajaran Ibnu Rusyd sangat berbahaya bagi sendi-sendi ajaran Kristen.
Walaupun mendapat kecaman dari gereja, gerakan Averroisme tetap berkambang pesat terutama di Itali dan inggris. Di Itali gerakan Averroisme berpusat di Universitas Bologna dan Universitas Padua, sedangkan di Inggris pusatnya di Universitas Oxford.
Munculnya gerakan dan aliran Averroisme ini sejatinya adalah lompatan besar dalam pemikiran dan semangat keilmuan bangsa Eropa, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebab sebelumnya Eropa kosong dari dari ilmu pengetahuan, berfikir sempit dan tidak menghargai akal. Bagi mereka satu-satunya sumber kebenaran hanyalah Gereja Kristen.
Seperti diketahui bahwa Gereja Katolik Roma sudah menancapkan dominasinya selama 11 abad di Eropa (abad ke-5 - abad ke-16 M.) dan sukses dalam menyatukan Eropa di dalam kerajaan Gereja Katolik ditandai dengan supremasi gereja secara absolut diatas negara. Dalam situasi itu kehidupan masyarakat Barat sepenuhnya dalam kontrol dan dogma gereja Katolik Roma, sehingga tidak ada kemerdekaan dan keselamatan di luar gereja. Landasan rasionalitas yang dikembangkan oleh Ibnu Rusyd ternyata sangat menarik perhatian dikalangan sarjana-sarjana Barat karena mereka manemukan adanya keharmonisan antara akal dan wahyu, filsafat dan agama, serta metode-metode eksperimentasi dan observasi mereka menemukan konklusi-konklusi ilmu pengetahuan yang benar dan sesuai dengan metode ilmiah yang digunakan Aristoteles dan komentatornya yaitu Ibnu Rusyd. Hal ini menyadarkan sarjana-sarjana barat untuk mengoptimalkan penggunaan akal dan meninggalkan paham-paham yang bertentangan dengan semangat rasional.

2. Peranan Ibnu Rusyd Terhadap Renaisans Di Eropa
Pengkafiran al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran menjauhi falsafat. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat tetapi tasawuf, bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan. Sebaliknya, di dunia Islam bagian Barat yaitu di Andalus atau Spanyol pemikiran filsafat masih berkembang sesudah serangan al-Ghazali tersebut. Maka secara berangsur-angsur, kekayaan khazanah ilmu pengetahuan dan filsafat di wilayah timur beralih ke wilayah barat. Oleh karena itu kemajuan peradaban Eropa pada abad ke dua belas tidak terlepas dari tokoh-tokoh filosof dan saintis muslim. Gustave lebone, sebagaimana dikutip Harun Nasution mengakui bahwa orang Arab-lah yang menyebabkan barat mempunyai peradaban.
Setelah banyak sarjana-sarjana barat yang menimba ilmu pada tokoh-tokoh filasafat Islam, maka pada sekitar abad ke 15 M. di Eropa terjadi reformasi ilmu pengetahuan. Para ilmuan barat telah berfikir secara baru dan berangsur-ansur melepasakan diri dari otoritas kekuasaan gereja yang selama ini membelenggu kebebasan dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu. Inilah kemudian dikenal dengan Renaisans di Eropa.
Proses transformasi ilmu pengetahuan dan filsafat islam terjadi melalui rute segi tiga perdagangan antara Spanyol - Sicilia – Syiria disamping itu jalur yang tidak kalah pentingnya dalam proses trnspormasi ini tentu saja jalur pendidikan. Universitas-Univesitas yang dibina oleh pemikir-pemikir muslim banyak dikunjungi oleh pemuda-pemuda barat untuk belajar. Tokoh-tokoh muslim yang berperan sebagai guru diantaranya Ibnu sina, Ibnu Tufail, Ibnu Bajah dan yang dianggap paling berperan tentu saja Ibnu Ruysd.
Ada beberapa faktor yang mendukung besarnya pengaruh ibnu Rusyd ke dalam peadaban Barat. Pertama, dari segi lingkungan tempat tinggalnya Ibnu Rusyd adalah orang barat, ia lahir dan meninggal di Barat (Cordova, Spanyol). Kedua, Ibnu Rusyd adalah seorang aristotelian (penganut paham Aristoteles). Ia berjasa dalam menghadirkan kembali warisan Yunani Kuno kepada Barat setelah sekian lama tengelam dan terkubur bersama-sama kegelapan barat. Ibnu Rusyd-lah yang menggali mutiara yang telah lama hilang tersebut. Ketiga, Ibnu Rusyd adalah pemikir rasional dan berhasil mengembangkan gagasan-gagasan rasional ke Barat. Ia menempatkan posisi akal pada tempat yang tinggi. Inilah kemudian berkembang dan sangat mempengaruhi pola pikir barat sejak abad pertengangan terakhir.
Dalam hal inilah beberapa pemikir barat menganggap behwa Ibnu Rusyd meletakkan posisi akal lebih tinggi daripada agama (wahyu). Padahal sebagai seorang muslim Ibnu Rusyd tidak pernah mempertentangkan antara keduanya, apalagi menempatkan akal di atas wahyu. Keduanya tidak saling bertentangan tetapi berjalan seiring. Oleh karena itu jelaslah bahwa Ibnu Rusyd, termasuk tokoh-tokoh filosof dan para ilmuwan muslim lainnya tidak menerima begitu saja pemikiran yunani yang tidak berdasarkan agama, tanpa terlebih dahulu melakukan harmonisasi dan menghubungkannya dengan ajaran Islam. Kalau pemikiran yunani tersebut selaras dengan islam maka itulah yang diterimah.
Dengan demikian tercerahkannya kembali Eropa dengan kemajuan ilmu pengetahuannya merupakan andil dari pemikir-pemikir islam. Orang barat yang belajar ilmu pengetahuan dari ilmuan-ilmuan muslim berhasil membangun peradaban mereka setelah mendapat sentuhan dari peradaban Islam. Ibnu Rusyd beserta pemikir-pemikir Islam yang lain telah mengeluarkan orang-orang barat dari kungkungan pemikiran gereja katolik yang sangat dogmatis.

1 komentar:

Siti Fathonah mengatakan...

Maaf mau tanya, makalah ini referensinya dari mana ya ka?

Poskan Komentar